Jangan Terjebak Dengan Medium

Saya kepincut dengan tulisan Chris Brogan yang berjudul Never Fall In Love With The Medium. Saya menganggap tulisan ini membantu menjelaskan pada diri saya pada khususnya mengapa banyak orang ataupun perusahaan yang akhirnya merasa kecewa dengan kenyataan bahwa apa yang bisa ia lakukan pada sebuah social media tidak lah menghasilkan sebesar apa yang dibayangkan. 

Eits jangan salah faham dulu, saya sama sekali tidak pesimis ataupun mengajarkan pesimis terhadap social media. Malah kebalikannya saya justru melihat semakin niche sebuah social media semakin besar peluang yang bisa kita peroleh, tentunya jika kita tidak membatasi diri pada medium tertentu ya.

Selayaknya sebuah produk, social media pun memunculkan fanatisme tertentu terhadap penggunanya. Fenomena Apple (Mac) fanboys yang selalu menganggap semua diluar Apple (Mac) tidak bagus ataupun peperangan abadi antara Nikonian dan Canonian dalam kancah perfotografian pun juga terjadi di dunia social media. Coba saja tanya kesekeliling, berapa banyak orang “pindah” dari Facebook ke Twitter lalu mencap Facebook is so “last year”. Atau pengguna Google+ yang menganggap Facebook adalah “mainan lama” dan sebaliknya fanboys Facebook yang mencap Google+ adalah Facebook copy, dan masih banyak lagi.

Apa tujuan Anda?

Sebenarnya apa sih yang ingin dicari dengan menggunakan social media? Tentu saja jawabannya akan beragam, tapi jika melihat pola sejak Friendster menjadi hip di dunia internet Indonesia berjejaring sosial sampai sekarang adalah masih sama yaitu dengan mengumpulkan koneksi sebanyak-banyaknya yang bertujuan:

  1. Getting exposure
  2. Menjadi hub informasi
  3. Stalking
  4. Make friends with the same interest
  5. dan tujuan-tujuan lain sebagainya

Dari semua tujuan yang ada semuanya menuju ke satu tujuan dasar, yaitu hubungan antar pengguna.

Fokus pada pengguna bukan medium

Jika memang semua bermuara pada pengguna lalu mengapa kita harus berfokus pada mediumnya? Jika yang ingin dicari adalah hubungan antar pengguna, medium seharusnya menjadi platform pendukung bukan justru jadi tujuan utama. Mungkin dari Anda ada yang pernah membaca tulisan saya yang berjudul Mengelola Social Media (Bangwin’s way), dimana pada tulisan ini saya memaparkan bagaimana saya menggunakan semua medium dengan pengkategorian tertentu agar mempermudah. Intinya adalah coba naikkan sudut pandang Anda agak lebih keatas sehingga semua medium terlihat dengan jelas lalu mulailah menggunakannya semua sesuai dengan karakter medium-medium tersebut lalu mulailah memfokuskan diri pada pengguna medium-medium tersebut.

Ini bukan urusan saling follow memfollow

Follow memfollow, Like me-like itu adalah gateway dari sesuatu yang seharusnya kita tuju, yaitu percakapan (conversation) dan bagaimana kita bisa masuk dalam percakapan tersebut. Oleh karena itu bila Anda masih berkutat pada penghitungan jumlah follower ya artinya Anda masih ada di sekitar ‘pintu’ belum masuk lebih dalam lagi, yang lalu bisa diartikan….ya belum melakukan apa-apa. Mendapatkan sejuta follower dalam sebulan tapi 70% dari follower tersebut pada akhirnya menghujat Anda atau produk Anda juga bukan sesuatu yang bisa dibanggakan, justru seharusnya dihindari ya. Oleh karena itu sudah saatnya kita mulai bergerak lebih jauh dari hanya sekedar mengumpulkan follower :-)

Bagaimana dengan Anda?

Foto: Australian Human Rights Commission

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s